Thursday, 9 July 2015

Nastar Klasik dkk






Baruu kemarin baca tentang mensyukuri datangnya tamu bulanan meskipun itu datang di penghujung Ramadhan, 10 hari terakhir dimana seharusnya setiap muslim sedang khusyuk-khusyuknya beribadah. Jadi ya mari bersyukur dengan melakukan sesuatu yang tetap bermanfaat, misalnya menyiapkan cemilan favorit suami. Sebenernya favorit semua orang sih, karena dari taun ke taun selalu kue ini hadir di waktu lebaran. Sampai-sampai jadi trade mark sejajar dengan ketupat opor dan teman-teman, inilah dia si nastar. Ini kedua kalinya saya bikin nastar, yang pertama entah 3-4 taun yang lalu dan seingat saya hasilnya penuh dengan retakan dan ukurannya acak hahaha makanya 2 taunan ini lebih pilih beli nastar jadi yang tinggal hap dan rasanya udah pasti enak. Tapi nampaknya taun ini harus belajar bikin nastar lagi, mumpung lagi halangan puasa + lapak online juga udah libur + Kimi masih masuk sekolah sampe besok.



Karena trauma masa lalu [halaah *_*] maka pagi tadi saya udah sibuk bookmark sana sini di blog-blog yang dengan murah hatinya memberikan trik dan tips biar nastarnya mulus tanpa retak dan kemepyur. Dan setelah semuanya siap, mulailah beraksi dengan resep nastar klasik NCC yang udah terkenal enaknya di seantero ibu2 NCC. O iya, untuk selainya saya nggak bikin sendiri.. kebetulan minggu lalu menemukan satu toko bahan kue di daerah Kranji, namanya toko berkat, dan sekalianlah beli selai nanas siap pakai disana. Selama ini udah agak-agak desperado kalo harus nyari bahan-bahan kue yang agak antik karena belum ketemu satu toko kue yang cukup lengkap dan murah [yap, ini penting sekali]. Waktu mau masuk toko saya pamit ke suami [yang nunggu diluar, karena tokonya penuuuuuuh banget] saya bilang Cuma mau liat-liat, paling beli butter aja. Dan ternyata pas keluar bawa sekeranjang belanjaan mulai dari cetakan dawet, coklat hitam, almond bubuk, dkk. Untungnya suami Cuma mesam-mesem, rupanya udah mahfum dengan kebiasaan belanja istrinya, yang namanya “lihat-lihat thok” itu berarti akan pulang dengan sekeranjang belanjaan :D



Dari hasil baca tips dan trik bikin nastar, saya rangkum berikut ini buat catatan taun depan kalo mau bikin lagi:
  1. Mengocok butter, margarin, kuning telur, dan gula halus jangan kelamaan, cukup asal tercampur rata saja.
  2. Setelah mencampur tepung ke adonan butter, aduk dengan spatula/ sendok kayu secukupnya. Jangan pake tangan karena panas tubuh bisa membuat butter mencair dan nastar jadi keras
  3. Memanggang nastar jangan terlalu over panasnya, cukup 140-150 DC
  4. Agar permukaan kuning cantik, olesan kuning telur dioleskan setelah nastar hampir matang. Jadi dipanggang dulu 30 menit, olesi bahan olesan, lalu panggang lagi 5-10 menit sampai kuning keemasan. Bahan olesan biasanya pake kuning telur [lebih bagus kalo ayam kampung/ ayam arab yang warna kuningnya pekat], susu uht, madu, minyak goreng dll sesuai selera. Saya masih belepotan ni di bagian ini, olesan kuning telurnya awalnya terlalu cair, lalu saya tambah 1 kuning telur lagi tapi tetep sering ada bagian yang menggumpal jadi nggak bisa rata. Mungkin memang mengoles nastar aja perlu jam terbang tinggi dulu ya biar bisa mulus hehe
  5. Simpan adonan di kulkas dalam keadaan tertutup biar nggak keras, karena proses memulung dan membentuk nastarnya memakan waktu lama ada baiknya bikin adonan sedikit-sedikit dulu. Saya tadi bikin 1 resep, adonan butter saya bagi 4 bagian lalu masuk kulkas. Setiap 1 bagian saya campur dengan ¼ bagian tepung [175gr] lalu baru dipulung dan dibentuk. ¼ adonan ini pas dipanggang dalam 1 loyang. Karena oven saya Cuma ada 1 rak jadi mesti satu-satu masuknya hehe


Daaan.. karena kemarin ada yang posting nastar hias di grup NCC, sayapun teracuni dengan suksesnya. Duuuh kreatif banget yang bikin ya, nastar jeruk itu sampe ada detail pori-pori kulit jeruk dan dibuat dengan cara diglundung-glundungin di atas parutan kelapa. Beneran saya terkagum-kagum. Makanya tadi siang adonan terakhir saya bikin untuk eksperimen macem-macem nastar modifikasi seperti: black nastar, nastar jeruk, dan nastar apel. Untuk  black nastar, saya tambahkan sedikit gula bubuk dan coklat hitam [saya pake varian coklat bubuk black african, dapet di toko berkat juga] lalu dibntuk seperti biasa. Untuk nastar jeruk, ya tinggal ditambahi pewarna makanan orange lalu dibentuk bulat, glundungin diatas parutan kelapa, lalu kerat sedikit bagian atasnya dengan ujung sendok kecil, kasih adonan warna hijau untuk daun, lalu beri cengkih untuk batang. Saya Cuma bikin sedikit untuk yang warna-warni ini karena memang Cuma proyek penasaran aja, masih nggak tega makan makanan berwarna gonjreng gitu sebenernya wkwkwk




Dan walaupun udah ratusan blog yang mencantumkan resep nastar klasik Ibu Fatmah NCC, berikut ini saya tulis ulang juga ya:

Nastar Klasik NCC

Bahan kulit:
250 gr margarin
250 gr mentega
100 gr gula halus
4 btr kuning telur
700 gr tepung terigu
4 sdm susu bubuk fullcream

Bahan olesan:
3 btr kuning telur, kocok lepas dengan 1 sdt susu cair

Cara membuat:
-          Kocok sebentar margarin, mentega, gula dan telur, cukup sampai tercampur saja.
-          Masukkan tepung terigu dan susu bubuk, aduk perlahan hingga tercampur rata.
-          Ambil sedikit adonan, bentuk bulat, isi dengan selai nanas. Susun diloyang tipis, beri jarak satu dengan yg lain.
-          Oven dengan suhu 140’C selama lebih kurang 30 menit. Keluarkan dari oven, poles dengan bahan polesan, oven lagi hingga kuning mengkilat.
-          Angkat, biarkan dingin. Susun dalam toples, tutup rapat.
-           
Sumber: NCC Indonesia http://ncc-indonesia.com/2013/05/nastar/

Selamat memasak :)
Devi

Tuesday, 16 June 2015

[Lock & Lock "Mrs. Chef"] Ayam Tinoransak




Waah... denger namanya yang eksotis, langsung terbayang masakan khas Minahasa yang kaya bumbu dan pedas segar ya. Tinoransak adalah masakan khas Sulawesi utara yang berbahan utama protein hewani [ayam, paniki, dan daging-daging lainnya] yang dibumbui cabe rawit, daun kemangi, daun jeruk, daun kunyit, dkk lalu dipanggang dalam buluh bambu. Konon katanya kalo dimasak dalam suhu yang pas, lemak ayamnya akan mencair dan menciptakan kuah kental diantara potongan ayam yang gurih. Buluh bambu yang dilapisi daun pisang juga membuat aroma ayam dan bumbu2nya tetap utuh terperangkap di dalam, sampai saatnya buluh dibuka dan siap dinikmati. Ngeces? Drooling? Iyaaa... tapi jauh banget kalo harus ke Sulawesi dulu. Kalo mau bikin sendiri juga susah cari buluh bambu dan pemanggangnya kali ya? 



Hmm... kita modif saja, ayam tinoransak panggan pake lock & lock oven glass. Pastinya nggak akan bisa menyamai citarasa asli yang diolah oleh tangan ahli dengan cara memasak tradisional, tapi cukuplah untuk menuntaskan rasa penasaran akan harum buluh bumbu yang menyatu dalam ayam tinoransak ini. Untuk menambah aroma, saya alasi bagian bawah dan atas adonan ayam dengan daun pisang.



Walaupun bumbu-bumbunya sama, tapi masakan ini terasa berbeda dengan masakan sehari-hari saya yang kebanyakan adalah masakan kahs daerah Jawa, karena pada ayam tinoransak ini daun-daunan bumbunya dirajang kasar dan nantinya akan ikut dikunyah bersama ayamnya. Rasanya tiap gigitan jadi sangat kaya rasa dan tesktur hehe. Sementara pada kebanyakan masakan daerah Jawa, daun-daun bumbu biasanya diuleg halus atau justru dibiarkan utuh begitu saja, jadi kita hanya akan menghirup aroma dan citarasanya tanpa harus mengunyah daun rempah-rempah. Misalnya soto yang memakai daun jeruk purut dan serai utuh, atau sayur lodeh yang menggunakan daun salam utuh, mangut yang menggunakan daun kunyit utuh, atau sambel pecel yang menggunakan daun jeruk ditumbuh halus. 



Setelah semua bahan tercampur rata, langsung ditaruh di Lock & Lock oven glass, ini adalah heat resistant glass yang terbuat dari Borosilicate sehingga aman digunakan untuk memanggang di oven/ microwave, bahkan juga bisa untuk menyimpan makanan di freezer. 



Saya baru tau kalo ternyata ada jenis tempered-glass yang bisa dengan gampang pecah berkeping ketika dipanaskan/ didinginkan secara tiba-tiba karena saat proses pembuatannya menghasilkan zat nickel sulfide yang akan mengembang saat suhu berubah tiba-tiba sehingga mengakibatkan kaca pecah secara tiba-tiba dan bisa melukai badan. Nah untuk amannya, sebaiknya kita memanggang hanya dengan wadah kaca heat-resistant yang memang didesain khusus untuk tahan sampai suhu 400 dc.


 Selain itu, lock & lock ovenglass juga punya kelebihan, yaitu:

1. Tidak pecah dengan sendirinya karena perubahan suhu
2.  Aman digunakan di oven, microwave, dan frezer
3.  Lebih ringan dibanding tempered glass
4. Suhu permukaan lebih rendah setelah digunakan pada oven/ microwave
5. Tahan lama, tetap bening walau sering digunakan




Ayam Tinoransak

Bahan:
300gr ayam, dipotong kecil-kecil
1 lembar daun pisang untuk alas

Bumbu:
2 batang daun bawang
5 lembar daun jeruk purut
1 genggang daun balakama [kemangi]
1 lembar daun pandan
1 lembar daun kunyit
1 ruas kunyit
1 ruas jahe
4 siung bawang merah
1 siung bawang putih
3 butir biji pala à [saya pake 1 saja]
3 biji cabe rawit merah

Cara memasak:
1.       Haluskan kunyit, jahe, pala, bawang merah, dan bawang putih.
2.       Campurkan bumbu halus dengan potongan ayam, aduk rata
3.       Rajang  kasar semua daun [kecuali kemangi], lalu campurkan dengan ayam yang sudah dibumbui
4.       Siapkan lock & lock oven glass, lapisi bagian bawahnya dengan daun pisang. Tata ayam yang sudah dibumbui, lalu tutup atasnya dengan daun pisang.
5.       Panggang sampai matang, bau harum ayam tercium. Siap disajikan

Sumber resep: 100 mak nyus makanan tradisional Indonesia, Bondan Winarno. Modifikasi sesuai selera pribadi hehe




Note: Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi LOCK&LOCK “Mrs. Chef” yang dilaksanakan oleh LOCK&LOCK Indonesia bekerja sama dengan HHBF (Homemade Healthy Baby Food)

[Lock & Lock "Mrs. Chef"] Carang Gesing Panggang






Belakangan ini saya jarang masak, entahlah... males rasanya masuk dapur hehe. Tapi demi persiapan puasa besok, harus terus semangat masak ya secara nanti sahur jam 3 pagi, mau beli makanan dimana coba? Apalagi malem-malem kalo lembur kerjaan, pastinya bakal cari-cari cemilan sepanjang malam. Selama bulan puasa, kayaknya favorit banget cemilan yang manis, gurih, dan anget ya. Saya pun coba pilih menu carang gesing untuk pemanasan acara masak-nya. Cemilan ini cocok juga untuk menu buka puasa, apalagi kalo puasa pasti punya banyak stok pisang untuk kolak ya.. kalo sekali-kali mau ganti menu baru, coba deh bikin carang gesing ini. Yummmmmm...



Carang gesing atau sarang gesing, adalah jajanan tradisional berbahan utama pisang diiris kecil, lalu dicampur santan, gula, dan telur kocok lalu dikukus dengan bungkus daun pisang. Membungkus carang gesing perlu trik khusus biar nggak bocor ‘kuah’nya. Dan saya nggak terlalu telaten bikin bungkus-bungkusan begitu >.< lagipula kukusan dirumah udah lama beralih fungsi jadi tempat mainan pasir Kimi. Jadilah kita bikin carang gesing modif saja, dioven! Kebetulan saya baru punya lock & lock glass oven. Gadget baru yang akan menemani saya ngoven bulan puasa besok :) 



Ada yang mau tau tentang gadget dapur baru saya ini nggak? Awalnya saya tau Lock & Lock itu cuma punya produk plastik seperti lunchbox, botol, food container, dll. Ternyata Lock & Lock juga mengeluarkan produk khusus kaca/ glass, salah satunya adalah Lock & Lock boroseal. 



Produk ini terbuat dari bahan Heat-Resistant Glass (kaca tahan panas) yang bernama Borosilicate. Ini adalah salah satu produk di jajaran oven glass, yaitu kaca tahan panas yang aman digunakan di oven, microwafe, dan frezer. Ada 5 keunggulan Lock & Lock oven glass ini, yaitu:

1. Tidak pecah dengan sendirinya karena perubahan suhu
2.  Aman digunakan di oven, microwave, dan frezer
3.  Lebih ringan dibanding tempered glass
4. Suhu permukaan lebih rendah setelah digunakan pada oven/ microwave
5. Tahan lama, tetap bening walau sering digunakan



Nah, dengan Lock & Lock kita bisa memasak dengan lebih aman dan menyimpan masakan di freezer dengan nyaman ya. Selain itu, desainnya elegan dengan motif floral minimalis di bagian tutupnya, sukaaa banget bagian ini. Oya, seperti produk Lock & Lock lainnya, penutup oven glass ini juga rapat banget tapi gampang dibuka, jadi kalo nyimpen bahan/ makanan cair nggak akan was-was tumpah kemana-mana. 



Sebelum masak, seperti biasa cari referensi resep di google, ternyata udah banyak yang bikin carang gesing panggang... kreatif memang ;) 



Resep yang saya buat ini dari berbagai sumber, dimodifikasi sesuai bahan-bahan yang ada di kulkas. Untuk toppingnya saya tambahin keju parut, jadi penampakan pisangnya tertutup keju.. kayak bukan carang gesing aja hehe. Tapi hasil akhirnya udah mirip carang gesing yang dulu sering saya beli di sekolah waktu SD, cuma ini ada sedikit gurih keju di bagian atasnya.



Carang Gesing Panggang

Resep:
400gr pisang kepok yang benar2 matang [bisa pakai pisang raja/ tanduk]
300ml santan
40gr gula pasir
1 butir telur
Sejumput garam
Taburan: kismis, keju parut, kayu manis bubuk

Cara membuat:
1.       Panaskan oven 150 dc
2.       Potong-potong pisang dengan ketebalan sekitar 1/2cm, tata diatas lock & lock oven glass.
3.       Di mangkok besar, kocok telur sampai tercampur rata. Masukkan santan, gula, dan garam. Aduk sampai gula larut.
4.       Siramkan pelan-pelan campuran telur & santan ke atas pisang, lalu panggang sampai setengah matang, kira2 20 menit.
5.       Taburkan keju dan kismis, panggang lagi sampai bagian atas carang gesing keemasan. Taburkan kayu manis bubuk, panggang lagi 2-3 menit. Angkat, siap disajikan hangat.

Selamat memasak :)

Note: Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi LOCK&LOCK “Mrs. Chef” yang dilaksanakan oleh LOCK&LOCK Indonesia bekerja sama dengan HHBF (Homemade Healthy Baby Food)

Sunday, 7 June 2015

Seblak





Saya penikmat pedas, bukan penggila pedas, jadi sebenernya nggak terlalu tertarik dengan masakan yang ada embel-embel pedaaaaaas atau superpedaaaasss. Cukup 2 atau 3 cabe dalam 1 panci masakan, kalo lebih nanti si perut bisa protes keras. Pernah suatu ketika saya dan suami hobi beli tahu goreng khas Bandung yang katanya superpedas dan kami sama-sama harus bersusah payah membuang sebagian besar isian tahu yang sebenarnya sangat enak itu.. karena pedasnya memang supeeer, terlalu super untuk perut kami hehe. Sejak saat itu akan pikir-pikir kalo mau beli masakan yang ada gelar ‘pedas’ di belakang namanya, mending coba bikin sendiri jadi tingkat pedasnya nggak terlalu galaklah. Dan minggu lalu, saya coba bikin seblak basah, gegara sering liat warung seblak yang memajang gambar –yang nampaknya enak – tapi cabenya segunung >.<

Seblak basah biasanya berbahan utama krupuk rebus [bisa divariasikan sesuai selera dan budget masing-masing orang] dengan bumbu cabe rawit yang banyak, dan tak lupa kencur yang membuatnya jadi khas dan sedap. Setelah jadi sepanci kecil seblak, penampilannya mengingatkan saya pada sambel goreng krecek yang sering jadi teman setia gudeg Jogja. Bedanya kalo sambel goreng krecek kayak ada manis-manisnya gitu deh *bukaniklan* 




Saya contek resep dari blog mbak Endang just try & taste dan dengan serius mengikuti saran-sarannya seperti memilih kerupuk yang tebal biar nggak gampang hancur. Kebetulan dapet krupuk ikan yang cukup tebal di pasar, setelah si krupuk direbus... hhhmmmm aromanya enyaaaaak, serasa udah mau langsung di-hap aja. Seblak ini kayanya termasuk makanan cemilan ya aslinya.. tapi saya bikin kemarin niatnya mau dijadikan lauk makan jadi ya ditambahin protein aja sekalian. Untuk tambahan, saya masukin tahu dan sedikit ayam yang dipotong kecil-kecil. Nah kalo resep asli pake 8 cabe rawit, saya cukuplah pake 2 cabe rawit dan 2 cabe keriting [biar warna kuahnya merah menawan]. Dan hasilnya? Sepiring nasi hangatpun langsung ludes, tekstur kerupuk basah yang kenyal dan sapuan aroma kencur membuat masakan ini khas dan ngangeni :)

Seblak Basah
[resep modifikasi dari resep asli di blog JTT ]

Bahan:
200 gram kerupuk ikan/udang, pilih jenis kerupuk yang tebal irisannya
3 buah tahu, potong kecil
100 gr daging ayam, cincang
1 gelas air


Bumbu dihaluskan:
cabai sesuai selera [saya pake 2 rawit merah + 2 cabe keriting merah]
5 siung bawang putih
5 siung bawang merah
2 ruas jari kencur
Minyak untuk menumis


Bumbu lainnya:
 1/2 sendok makan garam
1/2 sendok teh merica bubuk
1 sendok makan kecap manis
1 1/2 sendok makan gula merah sisir halus

Cara membuat:
-          Rebus kerupuk dengan air secukupnya sampai setengah matang, angkat dan tiriskan
-          Tumis bumbu halus dan bumbu lainnya sampai harum, tambahkan segelas air, masak sampai mendidih. Masukkan ayam, masak sampai matang. Tambahkan kerupuk dan tahu, aduk sebentar. Cicipi rasanya, kalo udah pas bisa langsung disajikan dengan taburan bawang goreng dan jeruk nipis peras

Selamat memasak,
BunKim :)