Sunday, 31 January 2016

Es Dawet Srabi



Udah 2 minggu ini, hampir tiap hari bikin poffertjes ala ala karena si krucil minta sarapan pake poffertjes isi keju. Krucil menyebutnya kue lumpur… ahahaha entah apa sebenarnya nama makanan yang saya buat ini ya, bahan yang dipake tepung terigu-gula-telur-susu-fermipan-dan sedikit minyak. Lalu karena udah lama ga ganti menu, kemarin kepikiran mau coba alternatif bahan selain tepung terigu karena tiap hari makan olahan tepung terigu yang tinggi gluten ‘kan nggak baik juga ya. Setelah cari-cari resep, dapatlah resep srabi yang cara bikin dan bahannya mirip dengan poffertjess ala ala tadi, bedanya kalo srabi ini pake tepung beras dan santan plus sedikit parutan kelapa. Tekstur dan rasanya agak beda sama srabi Solo, malah lebih deket ke apem.



Ternyata srabi yang dicetak pake cetakan poffertjes ini kebanyakan dong bikinnya. Mau dioles selai coklat atau keju kok kayak kurang pas. Akhirnya mikir-mikir lagi dan ingetlah sesuatu, ketika mudik ke kampung halaman suami di Blitar lebaran lalu, kami sempet mampir pasar dan menemukan penjual es dawet dengan isian beraneka ragam: ada dawet/ cendol, srabi, bubur sumsum, kacang hijau, bubur ketan hitam, dan beberapa lainnya lagi. Si penjual menata semua bahan ini di panci-panci besar dan ketika ada pembeli datang, pembeli boleh memilih apa saja isian yang dia sukai. Naah.. salah satu yang paling laris adalah es dawet srabi. Minuman ini mirip dengan es dawet pada umumnya, hanya saja disini dawet/ cendol digantikan oleh irisan srabi. Jadi kuah es yang manis-gurih-dingin dipadu dengan potongan srabi yang kenyal dan gurih. Pas untuk dinikmati pagi, siang, maupun sore sambil ngobrol bersama teman atau keluarga. 



Kemudian beberapa hari lalu saat browsing, saya baru tahu kalau ternyata es dawet srabi ini adalah salah satu minuman khas Blitar. Meskipun tidak sepopuler es plered, tapi citarasanya yang manis dan gurih pasti akan segera disukai siapapun, apalagi kuahnya menguarkan aroma wangi daun pandan dan daun jeruk purut, eksotis! Di daerah asalnya, es dawet srabi biasa disajikan bersama sedikit cendol, bubur sumsum, kacang hijau rebus, atau irisan nangka.



Kebetulan bulan Januari ini pas ada challenge ‘leftover’ di IDFB, mau ikut setoran meskipun udah mepet deadline hehe. Maka jadilah es dawet srabi leftover untuk menghabiskan stok srabi di dapur ^_^



Es Dawet Srabi

Bahan:
Srabi 4-5 buah, potong kecil [saya pakai srabi mini jadi 1 porsi pake 2-3 buah srabi, potong 4]

Kuah Santan:
1 liter santan encer
Sejimpit garam
1 lembar daun pandan, simpulkan
1 lembar daun jeruk purut, buang tulang daunnya

Kuah Gula:
200gr gula merah, sisir
300ml air

Bahan pelengkap: es batu, potongan nangka, tape, dll

Cara membuat:
1.  Kuah santan: Rebus santan bersama daun pandan, daun jeruk purut, dan garam dengan api kecil, aduk-aduk sampai mendidih. Saring, sisihkan.
2.  Kuah gula: Rebus air dan gula merah sampai gula merah larut, saring, sisihkan.
3.  Cara penyajian: tuang kuah gula di gelas, masukkan potongan srabi, tuangi dengan kuah santan pelan-pelan. Tambahkan bahan pelengkap dan es batu.
4.  Es dawet srabi siap dinikmati :)

** Postingan ini diikutsertakan dalam challenge "leftover' Januari 2016 di Indonesian Food Blogger

Selamat masak, selamat makan
Salam,
Devi 

Saturday, 30 January 2016

Surga Di Sawarna







Sawarna adalah sebuah Desa yang terletak di Jawa barat, tepatnya di Kabupaten Banten. Desa ini memiliki hamparan alam yang sangat indah dan berragam sehingga sangat cocok dijadikan tempat refreshing. Setidaknya ada 7 pantai, gua, perbukitan, dan desa cagar budaya yang dimiliki Sawarna. Berbekal keinginan untuk menjelajahi keindahan alam Indonesia khususnya di Jawa Barat, kami sekeluargapun mengunjungi Sawarna pada akhir tahun 2015.
Dari lokasi kami di Bekasi, Sawarna berjarak 192km yang bisa ditempuh dalam waktu sekitar 8-12 jam tergantung kondisi lalu lintas dan kendaraan yang dipakai. Bagi wisatawan dari luar kota/ pulau, bandara yang paling dekat dengan Sawarna adalah Bandara Soekarno Hatta [Tangerang, Banten] Dan Bandara Husein Sastranegara, Bandung]. Keduanya berjarak sekitar 214km dari Sawarna. Rute paling pendek dari Bandara Soekarnoo Hatta adalah sebagai berikut: Jl. Tol Prof. Sedyatmo -  Tol Lingkar Dalam Jakarta – Tol Jagorawi – Jl. Jakarta – Cibadak – Jl. Pamuruyan – Leuweung Datar – Jl. Leuweung Datar Pagkalan – Cikidang , Pasir Suren – Bojong Soka – Buniwangi – Kiaralawang – Bhayangkara – Karang Hawu – Bayah – Sawarna.



Dalam perjalanan menuju Sawarna, para wisatawan akan disuguhi pemandangan yang memanjakan mata, mulai dari hamparan persawahan, hutan yang menghijau, hingga pemandangan pesisir pantai dan deburan ombak yang mempesona di kejauhan. Kami sempat mampir sebentar ke Pelabuhan Ratu dan Pantai Karang Hawu yang terletak di dekat pusat kota Sukabumi. Kedua pantai ini terletak di pinggir jalan raya utama jadi sangat mudah dijangkau. Perjalanan dari Karang Hawu sampai ke Sawarna masih sekitar 50km lagi dengan kondisi jalanan yang berkelok-kelok naik turun gunung. Tapi untunglah, jalanan sudah mulus, hanya ada beberapa spot jalan yang masih dalam proses perbaikan dan berkerikil.
Setelah menempuh perjalanan selama 10 jam, sampailah kami di Desa Wisata Sawarna, lalu kamipun segera mencari penginapan. Tidak sulit mencari penginapan di Sawarna karena di sepanjang jalan di kawasan pantai terdapat puluhan villa/ cottage dan ratusan penginapan, bahkan rumah-rumah wargapun banyak yang disewakan untuk penginapan para wisatawan. Kami memilih sebuah penginapan di tepi jalan utama dekat Muara Sawarna dengan pertimbangan ada di dekat pantai dan tempat parkirnya cukup memadai. Tarif penginapan di sekitar Sawarna berkisar antara 100-600rb/malam. 



Desa Wisata Sawarna memiliki sekitar 7 pantai fenomenal, tapi sebagian besar dari pantai-pantai itu tidak bisa dijangkau mobil. Satu-satunya alat transportasi yang bisa menjangkau adalah motor, kalau mau berjalan kaki juga cukup jauh yaitu sekitar 2-5km dari jalan raya. Bagi wisatawan yang datang tanpa motor, tak perlu khawatir karena di sepanjang jalan sekitar Sawarna banyak tukang ojek yang menawarkan jasa untuk mengantar para wisatawan menjelajahi pantai-pantai terindah Sawarna. Selain itu juga ada beberapa warga yang menyewakan motornya dengan tarif 50-100rb untuk sekali pakai, tergantung lamanya menyewa. Kami memilih menyewa motor dari penginapan agar lebih fleksibel menentukan tujuan, meskipun sama sekali belum tahu rute menuju pantai tapi tak mengapa karena banyak warga yang dengan ramah dan jelas akan menjawab pertanyaan wisatawan mengenai arah pantai-pantai di Sawarna.
Tujuan kami sore itu adalah pantai Tanjung Layar dan pantai Pasir Putih. Pasir putih memiliki hamparan pasir putih yang lembut dan landai, cocok untuk bermain-main ombak, sedangkan Tanjung layar terkenal dengan karang kembar raksasa yang berbentuk seperti layar, salah satu favorit wisatawan untuk melewatkan sunset. Untuk sampai kesana, kami harus melintasi jalanan kecil yang berliku, dan sesampainya di Tanjung Layar, terbayarlah sudah perjalanan panjang dari rumah tadi, pantainya benar-benar baguuuuuuus.
Dua karang raksasa yang menjadi landmark Sawarna dikelilingi puluhan wisatawan, baik itu yang mau selfie maupun menikmati bibir pantai berkarang itu. Karena hampir seluruh permukaan pantai tertutup karang, jadi kebanyakan wisatawan hanya datang untuk memotret dan menikmati sunset, bukan untuk berenang. Sekitar jam 5 lewat, kami berpindah ke Pantai Pasir Putih yang banyak digunakan untuk bermain ombak oleh para wisatawan. Jarak tempuh 2 pantai ini sekitar 5 menit naik motor. Sepanjang jalan kita akan disuguhi pemandangan pantai lengkap dengan debur ombak yang memanggil-manggil. Sayangnya, saat kami sampai di pantai Pasir Putih, matahari sore yang berwarna bulat kemerahan itu malah menghilang di balik awan mendung. Sebelum jam 6 sore, kami memutuskan segera kembali ke Penginapan untuk beribadah dan makan malam. Untuk menu makan malam, kami memesan secara terpisah ke penginapan. Harganya cukup masuk akal, 100rb/ orang untuk 3 kali makan. Khusus makan malam, menu yang terhidang sangat komplit dan melimpah: ikan bakar, cumi goreng, udang saus padang, dan tak lupa sayur cah.



Keesokan harinya, kami merencanakan berburu sunrise di pantai Legon Pari lalu mengakhiri petualangan di Goa Lalay. Sebenarnya di sekitar Legon Pari masih ada beberapa pantai lagi seperti Karang Taraje dan Karang Beureum yang juga sangat terkenal karena benteng karang alami-nya, tapi karena keterbatasan waktu maka kami hanya akan mengunjungi 2 tempat saja pagi itu. Sebelum berangkat, penjaga penginapan yang kami tanyai rute ke Legon Pari sudah menjelaskan kalau jalan ke arah Legon Pari masih jelek. Dan ternyata benar, Legon Pari ada di balik sebuah bukit gersang dengan jalan kecil yang cukup terjal dan harus kami tempuh selama sekitar 20 menit. Walaupun agak kesiangan sampai di Legon Pari, tapi semuanya terbayar melihat indahnya hamparan pantai yang masih bersih dan sepi. Pagi itu, hanya ada sekitar 10 orang yang menikmati sunrise bersama kami. Cahaya matahari pagi semburat keemasan terpantul di atas deburan ombak pantai Legon Pari, sungguh dramatis dan membuat siapapun makin jatuh cinta pada alam Indonesia.



Puas bermain di pantai Legon Pari, kami melanjutkan perjalanan ke Goa Lalay [Lalay: kelelawar]. Ternyata perjalanan dari Legon Pari ke Goa Lalay juga tak kalah memacu adrenalin. Sekitar 30 menit, sampailah kami di Goa Lalay. Goa ini digenangi air setinggi betis orang dewasa. Kami tidak sempat menjelajah bagian dalam goa karena harus menghemat energi untuk pulang nanti. Cukuplah menikmati keindahan goa dari luar dan sedikit masuk ke dalamnya. Menurut penjaganya, Goa Lalay ini memiliki 2 jalur penelurusan yaitu sepanjang 400m dan 2km. di sekitar goa Lalay ada mushola kecil, warung, dan tempat penyewaan helm/ senter bagi yang mau menelusuri goa. Setelah beristirahat sebentar, kami memutuskan kembali ke penginapan. Jalan dari Goa Lalay kearah penginapan sudah cukup dekat dan jalannya pun lumayan bagus, sekitar 15 menit kami sampai dengan selamat ke penginapan. Setelah sarapan dan membersihkan badan, kami bersiap kembali ke Bekasi. Awalnya, kami ingin pulang dengan menelusuri kembali rute keberangkatan tapi ternyata jalan ditutup karena sedang ada pambangunan jalan, lalu kamipun harus berbalik arah memutar ke arah Bayah. Tak jauh dari Muara Sawarna, kami kembali disuguhi satu pantai yang masih termasuk dalam kawasan desa wisata Sawarna, yaitu Pantai Pulo Manuk. Pantai ini landai dan berpasir putih, banyak perahu nelayan berjajar di tepinya. Lokasinya di dekat jalan raya sehingga mudah diakses. Setelah mampir sebentar di Pulo Manuk, kami meneruskan perjalanan 10 jam ke Bekasi. Petualangan seru di Surga Sawarna menutup tahun 2015.



 Tahun 2016, masih banyak tempat lain yang ingin kami jelajahi, salah satunya adalah Bali. Meskipun sudah sangat mainstream, tapi nampaknya Bali tak pernah kehilangan pesona. Mungkin, ikut salah satu paket wisata yang ditawarkan oleh travel agent bisa jadi pilihan mengingat ada banyak sekali tempat menarik di Bali. Apalagi, kalau ada travel agent yang lengkap menyediakan jasa pemesanan tiket pesawat, paket wisata, penyewaan mobil, dan paket wisata kuliner/ restoran jadi liburan bener-bener terasa seperti liburan dan bukannya malah bingung memilih dan mengurus ini itu yang menguras energi hehehe. Yang tertarik dengan paket-paket liburan di Bali, coba deh tengok di Vokamo. Selain ada banyak paket liburan, pembayarannya juga udah lebih gampang karena bisa dibayar lewat Alfamart. Atau kalau belum menentukan tujuan liburan, baru mau ceki-ceki tiket pesawat yang paling murah juga bisa cek di vokamo.com. Psssst.. buat pelanggan newsletter Vokamo juga ada voucher-voucer khusus lo.





Monday, 28 December 2015

Tongseng Sapi



Udah 2 minggu ini belanja mingguan di Sinpasa SMB, karena si anak lanang ketagihan beli ikan kakak tua yang -menurutnya- hanya ada di Sinpasa. Dan penyakit emak-emak kalo udah masuk pasar yag rapiiih adalah borong apapun walau nggak tau mau dimasak apa hehe. Salah satunya yang masuk kantong kresek saya minggu lalu adalah tomat ijo, perasaan jarang banget liat ada tomat ijo di pasar. Inget di kulkas masih ada sedikit daging sapi sisa bikin sop sapi minggu sebelumnya.



Akhirnya jadi juga masak tongseng sapi, resepnya nyontek dari salah satu web masak langganan: sajian sedap! Lalu untuk potret-potret, saya keluarin props foto baru, hadiah dari IDFB di challenge labu bulan November kemarin. Saya pilih hadiah pinggan keramik serbaguna bisa untuk microwave, simpen di freezer, dll. Senangnya.... ini pinggan saji pertama saya, sekarang kalo masak sayur-sayur berkuah bisa masuk situ, aman dari lalat dkk karena tutupannya rapat. Terimakasiiiiiih tim kece IDFB ^_^



Tongseng Sapi

Bahan:
400 gram daging sapi
1.000 ml air
1.500 ml santan dari 1 butir kelapa
1 cm lengkuas, dimemarkan
2 batang serai, dimemarkan
2 lembar daun salam
5 buah cabai rawit hijau, diiris-iris
3 sendok makan kecap manis
3 butir bawang merah, diiris tipis
2 sendok makan minyak untuk menumis
1 sendok teh merica bubuk
3 1/2 sendok teh garam
1 sendok makan gula pasir

Bahan Pelengkap:
5 buah tomat hijau, potong 4 bagian

1/4 buah kol, iris tipis
3 sendok makan bawang merah goreng
2 batang daun bawang, diiris halus
2 buah tomat merah, dipotong-potong

Bumbu Halus:
4 siung bawang putih
6 butir bawang merah
4 buah kemiri, disangrai
3 cm kunyit, dibakar
2 cm jahe
1 sendok teh ketumbar, disangrai


Cara membuat tongseng sapi:
  1. Rebus daging hingga empuk. Angkat daging. Potong-potong.
  2. Tumis bawang merah, bumbu halus, daun salam, lengkuas, serai, sampai harum.
  3. Masukkan bumbu ke dalam rebusan daging. Tambahkan garam, merica, gula, kecap manis, dan santan didihkan sambil diaduk sesekali agar santan tidak pecah. Masukkan daging, cabai rawit, kol, daun bawang, dan tomat.
  4. Sajikan bersama pelengkap. 
Selamat memasak :)

Saturday, 19 December 2015

Resensi Novel Pulang: Menafsirkan Ulang Keberanian Untuk Pulang



Judul              : Pulang
Penulis          : Tere Liye
Penerbit         : Republika Penerbit
Cetakan         : III Oktober 2015
Halaman        : iv+400
No. ISBN       : 9786020822129

Sebuah novel yang baik akan meleburkan identitas diri pembacanya ke dalam tokoh utama lalu bersama-sama menyusuri lorong cerita untuk menemukan kepingan diri si pembaca hingga di ujungnya pembaca telah hadir kembali sebagai seseorang yang baru. Itulah yang disajikan Tere Liye dalam novel terbitan Republika Penerbit berjudul Pulang. Pembaca diajak untuk ikut meredefinisikan ketidak-kenal-takutan Bujang, sang tokoh utama, lalu pada akhirnya pembaca akan antiklimaks pada meredefinisikan ketakutan-ketakutan pembaca sendiri.
Tere Liye dikenal sebagai penulis fiksi yang produktif, sebagian besar karyanya memiliki pesan moral yang kuat didukung dengan tokoh-tokoh berkarakter khas dengan tema dan genre yang sangat beragam. Begitu juga dalam novel Pulang, meskipun tokoh utama sejak awal dikisahkan hidup dalam gelimang kekerasan lalu tumbuh besar dalam dunia kelam, tapi ada satu titik putih yang ditonjolkan dengan mencolok. Tidak ada dunia hitam-putih dalam novel ini, seperti sampul bukunya yang didominasi warna hijau [bukan hitam] dengan robekan bergambar matahari terbit, yang ada hanyalah masa lalu berisi ketakutan yang berhasil ‘dirobek’ hingga si tokoh utama bisa menatap matahari terbit dengan keberanian baru.

Kesedihan yang penuh energi 
Novel Pulang berhasil menyentuh emosi tanpa menjadi cengeng, kesedihan dan luka justru ditampilkan dalam balutan semangat. Novel bergenre action-drama ini memiliki setting tempat yang unik dan penyajian cerita maju-mundur yang menegangkan sehingga pembaca seolah-olah sedang naik mesin waktu mengikuti petualangan Bujang dari rimba di Bukit Barisan, beberapa spot utama di Ibu Kota, hingga beberapa kota besar Asia. Kekuatan novel sudah terbangun sejak pembukaan di bab I, Tere Liye dengan kuat menarik seluruh konsentrasi pembaca dari secangkir kopi-kue manis-atau berita televisi langsung menuju ke klimaks pertama hidup Bujang, sebuah pertarungan hidup mati di tengah rimba raya Bukit Barisan yang menguras habis ketakutan dan menjadikan Bujang manusia tanpa rasa takut. Siapapun akan tersedot dan dengan cepat masuk ke jalan cerita di bab selanjutnya.
Cerita berlanjut sampai konflik Mamak dan Bapak, satu pihak ingin Bujang memulai hidup baru di Kota sedangkan satu lagi sangat berat hati karena sudah tahu apa yang akan dijalani Bujang di Kota nanti.  Tapi masa lalu sudah menorehkan sejarah hari itu, Bujangpun ikut bersama rombongan pemburu yang dipimpin oleh Tauke Besar. Mereka mengembangkan berbagai bisnis ilegal yang diperkuat oleh puluhan tukang pukul. Bujang selalu bercita-cita menjadi tukang pukul nomer satu di kelompok yang menamakan dirinya keluarga Tong itu. Tapi, Bujang juga memiliki intelegensi super sehingga dia diharuskan untuk belajar agar kelak menjadi otak pengatur strategi bisnis tingkat tinggi. Maka siang malam Bujang menggembleng ilmunya bersama guru-guru terbaik: guru sekolah dari Amerika, ninja terbaik dari Jepang yang mengajari filosofi hidup samurai, dan penembak terbaik se-Asia Pasifik dari Filipina. Bujang telah tumbuh menjadi salah satu tangan kanan Tauke Besar. Bisnis mereka berkembang tak hanya bisnis pasar gelap bernilai miliaran, tapi juga menjadi salah satu penguasa shadow economy di Asia. Bagian shadow economy ini disajikan dengan menarik oleh Tere Liye, sehingga pembaca yang awam akan istilah ekonomi akan segera mengerti apa dan bagaimana hubungannya dalam jalan cerita secara utuh.
Kisah terjalin rapat antara masa lalu-masa sekarang-masa depan hingga tiba pada puncak kekuasaan Keluarga Tong. Saat itulah terjadi krisis hebat karena penghianatan dan upaya balas dendam kelompok lain. Lewat puluhan adegan pertarungan, penjelajahan, kehilangan, dan serentetan penghianatan pembaca diingatkan bahwa dalam setiap manusia ada satu titik putih yang akan mengajak manusia kembali kepada hati nurani tak peduli sekelam dan sekotor apa kehidupannya. Pada Bujang, titik putih itu adalah kesetiaan pada prinsip. Kesetiaan yang pada akhirnya menuntun Bujang untuk berdamai dengan rasa takut dan kesedihan. Bujang telah kehilangan orang-orang yang sangat disayanginya, lalu kemanakah Bujang harus pulang? 

Bertabur makna
Sebagian besar pembaca mungkin akan menyelesaikan novel ini dalam waktu 24 jam karena tiap bab selalu menyelipkan kejutan yang sayang untuk ditunda. Tapi ada beberapa hal yang dirasa cukup mengganggu, misalnya terlalu banyak “kebetulan” yang terlalu muluk dan drastis, misalnya ranjang bisa meluncur turun ke ruang bawah tanah, ujung lorong rahasia yang menuju rumah seseorang dari masa lalu Bujang, dan adegan pertarungan terakhir ketika Bujang berhasil menjadi samurai seutuhnya. Lalu pemakaian nama tempat dan tokoh yang "setengah-setengah" juga terasa mengambang, misalnya deskripsi tentang tokoh calon presiden yang gemar berkemeja putih dan sebutan "kota propinsi" dan tempat-tempat lainnya yang mengingatkan kita pada tokoh dan tempat di dunia nyata. Mungkin jika Penulis menciptakan tokoh dan nama tempat fiktif justru akan berguna untuk memperkuat karakter kisah novel secara keseluruhan. Tapi hal itu bisa dimaklumi dan bisa tertutupi dengan banyaknya hal menarik lain yang ditampilkan Tere Liye dalam novel setebal 400 halaman ini.
Sebagaimana yang telah disampaikan di awal tulisan ini, novel Pulang ini penuh pesan moral yang dikemas apik. Pesan-pesan ini menyebar hampir di semua bagian novel sebagai ucapan salah satu tokoh ataupun untaian kejadian. Salah satu keunikan novel Tere Liye adalah membuat pembaca tak tahan ingin mengutip quote yang bertebaran disana-sini. Saya mencatat beberapa kalimat yang bermakna sangat dalam, misalnya:
“Di masa-masa sulit, hanya prinsip hidup yang akan memanggil kesetiaan-kesetiaan terbaik lainnya” [Salonga, Hal. 187]
“Sejatinya, dalam hidup ini kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja” [Guru Bushi, Hal. 219]
“Peluk erat dan dekaplah seluruh kebencian. Hanya itu cara agar hatimu damai. Semua pertanyaan, keraguan, kecemasan, kenangan masa lalu, peluklah mereka erat-erat. Tidak perlu disesali, tidak perlu dibenci, buat apa? Bukankah kita selalu bisa melihat hari yang indah meski di hari terburuk sekalipun? [Tuanku Imam, Hal. 339]
“Dulu dia berani karena yakin dengan kekuatan yang dia miliki, sekarang dia memahami bahwa tidak mengapa rasa takut itu hadir, sepanjang itu baik, dan menyadari masih ada yang memegang takdir. Dia takut – dia mengakuinya- tapi dia tidak akan lari dari kenyataan itu, melainkan akan menitipkan sisanya kepada takdir Tuhan. Dia menambatkan rasa takut itu kepada Sang Maha Memiliki. Maka serta merta dia memiliki keberanian baru, menggantikan yang lama. Dia telah menafsirkan ulang semuanya. Dia telah berhasil membangun hati baja yang baru” [Tuanku Imam, Hal. 344]
Demikianlah, saat Bujang berhasil menafsirkan ulang keberanian di Bab 21 novel ini, pada saat yang sama pembacapun telah lahir kembali menjadi manusia baru yang juga berani menafsirkan ulang keberaniannya.

Oleh: Devi MS