Friday, 31 January 2014

IDFB #14 Olahan Beras: Punten Pecel




Kalo pecel, semua orang pasti udah tau ya. Kalo punten? Apa itu punten? Bahasa Sunda untuk “maaf”? Hmm..mungkin iya. Tapi punten yang satu saya buat siang ini bukan jenis punten Sunda hehe. Saya baru ‘kenal’ punten sekitar sebulan lalu waktu mudik ke rumah suami di Blitar, Ibu Mertua dengan bersemangat menawari saya untuk sarapan “punten pecel”. Sayangnya bakul punten pecel yang ditunggu-tunggu ga datang selama 2 hari, jadi rasa penasaran saya hanya bisa dijawab dengan penjelasan Ibu kalo punten itu nasi gurih yang dipadatkan. Oke, ingatan saya langsung tertuju pada jadah [makanan khas Jogjakarta, terbuat dari ketan yang ditetel dan dipadatkan, biasanya dijajakan bersama bacem tempe/tahu. Di Jakarta dan sekitarnya, jadah ini biasanya dijual dalam bentuk gorengan/bakaran, belum pernah nemu jadah bacem disekitar sini] dan legendar [di kampung saya, biasa dibuat dari nasi sisa yang dikukus ulang lalu dihaluskan dan dipadatkan. Bisa dimakan begitu saja dengan tambahan kelapa parut dan kuah gula jawa/ juruh atau diiris tipis, dijemur, lalu digoreng jadi krupuk legendar]. Untungnya pada hari ke-3 saya di Blitar, Ibu berhasil juga nyegat bakul punten pecel... ah ya bentuknya mirip jadah, Cuma punten ini terbuat dari beras dan ada tambahan parutan kelapa muda. Rasanya gurih dan kenyal, mak nyooos dipadu sambel pecel Blitar yang pedas manis. Sluuuurp...!!! Kalo yang belum familiar dengan jadah atau legendar, maka punten pecel ini juga identik dengan lontong atau ketupat. Kalo lontong/ketupat berrasa hambar maka punten berrasa gurih santan dan wangi daun salam...



 Lalu siang ini saya ngotot bikin punten pecel di tengah keterbatasan bahan dan mahalnya sayur-mayur [kangkung dan bayam, harganya naik hampir 4 kali lipat pagi tadi >,<] karena semalam mampir IDFB dan tiba-tiba kangeeeeeeen masak lagi. FYI, saya udah hampir 2 bulan nggak masak yang agak serius karena baru buka lapak baru dan itu menguras energi dan pikiran, ternyata ya. tiap hari Cuma masak standar sayur dan lauk, cemilan pun paling Cuma pisang goreng. Dan siang ini, mumpung tanggal merah, bisa memberantaki dapur lagi :D Kebetulan juga IDFB challenge bulan Januari ini adalah masakan olahan beras yang didukung PureGreen sebagai penyedia beras organik berkualitas yang bisa dikonsumsi keluarga yang mengutamakan gizi dan kesehatan makanan [http://puregreenorganic.com/]. Maka punten pun bisa jadi alternatif pengolahan beras kalo ada yang bosen makan nasi terus tiap hari. Bagi Ibu-Ibu yang punya anak kecil, punten bisa dicetak di bento mold atau cetakan coklat yang lucu-lucu biar si kecil lahap maemnya hehe


 Nah kembali ke punten. Punten ini banyak ditemui di Blitar, Tulung Agung, Kediri dan sekitarnya. Dijual di warung makan atau dijajakan dari rumah ke rumah dengan harga sangat terjangkau, cukup 2-4rb saja per porsi. Lalu kenapa namanya punten sih? Saya juga ga ngerti dan dari hasil googling semalam pun tidak menemui titik terang asal muasal nama unik ini. Cuma di satu blog diceritakan kalau punten ini hasil kreasi para petani di daerah Jawa Timur yang menciptakan bekal yang praktis untuk dibawa kerja ke sawah. Punten dengan bentuknya yang padat dan rasanya sudah gurih, tentu praktis dijadikan bekal. Sukur-sukur kalo ada tambahan pecel, gorengan, dan krupuk :)



[Resep] 
PUNTEN PECEL

  1. Punten:
-          1 gelas beras Pure Green
-          3 gelas santan cair
-          2 lembar daun salam
-          2 sdm kelapa muda parut
-          ½ sdt garam

Cara membuat:
1. Rebus santan, garam, dan daun salam sampai mendidih, masukkan beras. Masak sampai air habis
2. angkat beras lalu campur dengan kelapa parut, aduk rata. Kukus sampai matang
3. panas-panas haluskan dengan tumbukan kayu/batu, lalu cetak di nampan atau baskom yang sudah dialasi daun pisang/plastik dan dioles sedikit minyak sayur, padatkan
4. setelah dingin, potong-potong dan sajikan bersama sayuran dan siraman sambel pecel

  1. Pecel:
-          Sayur mayur [kacang panjang, tauge, kangkung, bayam, sawi] direbus, tiriskan
-          Sambel pecel: kacang tanah digoreng lalu dihaluskan bersama cabai rawit, bawang putih, daun jeruk purut, kencur, garam, sedikit air asam jawa, dan gula jawa], encerkan dengan sedikit air matang
-          Krupuk untuk pelengkap

Selamat memasak ^^
Devi - BunKim

Friday, 4 October 2013

Donat kentang




Beberapa minggu belakangan saya banyak banget kepengen ini-itu, tapi terpaksa ditahan karena selain tanggal tua juga –kebetulan- makanan yang dipengeni bukan makanan sehat [ehm...pencitraan banget ini mah :D]. Salah satunya adalah donat. donat yang biasa saya beli lagi diguncang isu nggak enak jadi pindah ke toko sebelahnya, cuma beli 2 biji dan yang satu masih nyisa sampai sekarang karena donatnya muaniiiiiiiis. Lalu sebiji donat yang tersisa masih saya simpen sampai sekarang, seminggu berlalu dan si donat masih seksi dengan balutan coklat yang juga muluuuuuuus pol. Hadeeeeh...mestinya udah berjamur ria kalo donatnya bukan donat jadi-jadian >,<



Trus karena beberapa temen FB pada posting doken, jadilah saya latah ikut-ikutan bikin :D Setelah googling sebentar, saya jatuh hati pada penampakan donat kentang gendut yang pake resep NCC. Langsung lah beraksi di dapur mini. Nggak sampai 1 jam, donat-donat gendut keluar dari penggorengan dan langsung meluncur ke perut fans kecil BunKim hehe. Saya bikin setengah resep lebih sedikit, jadinya sekitar 15 donat ukuran besar..makan 1 cukup kenyanglah



Donat kentang
Sumber resep: NCC

Bahan:
500 gr   tepung terigu protein tinggi
50 gr     susu bubuk
11 gr     ragi instant
200 gr   kentang, kukus, haluskan dan dinginkan
100 gr   gula psir
75 gr     mentega
½ sdt    garam
4 btr      kuning telur
100 ml   air dingin

Cara membuatnya:
- Dalam wadah, campur tepung terigu, gula, susu bubuk, ragi instant, aduk rata, masukkan kentang halus ,tuang telur dan air dingin, uleni hingga rata dan setengah kalis.
-   Beri mentega dan garam, uleni terus hingga kalis elastis. Istirahatkan 15 menit/ sampai mengembang 2 kali lipat. Kempiskan adonan dengan cara meninju sampai udara keluar, bulatkan lagi
-  Bagi adonan, masing-masing 50 gr, bulatkan. Diamkan 20 menit, hingga mengembang.
-     Lubangi tengahnya, menjadi bentuk donat, segera goreng sampai kuning kecoklatan.
-     Angkat, tiriskan. Taburi gula donat, atau hias dengan coklat.

Happy cooking :)
Devi - BunKim

Sunday, 22 September 2013

IDFB #12 : Ketika Singkong dan Yoghurt tampil seloyang



Tantangan IDFB bulan ini bener-bener deh, keren dalam segala hal. Pertama keren karena pake bahan utama singkong dalam rangka kampanye singkong day, ya iyalah kita ini bangsa singkong tapi kok malah menganggap singkong nggak keren dan pada akhirnya mulai melupakan singkong, sayang sekali. Yang kedua, keren karena jadi ajang “tes inovasi” menggabungkan singkong dan yoghurt dalam satu resep. Kalau di tantangan sebelumnya tinggal cari referensi resep dan bisa langsung eksekusi, tapi kali ini silakan ketik “resep singkong – yoghurt” di searching engine dalam bahasa Inggris maupun Indonesia, sedikiiiit sekali referensi yang akan kita temukan karena memang 2 bahan ini jarang sekali tampil duet. Tapi jarang bukan berarti nggak bisa, kan? :D 


Lalu keren yang ke-3 adalah hadiahnya, ada hadiah voucher jutaan rupiah bahkan liburan di Bali. Semangat 45 pastinya yah! Yeaaaah..it's IDFB 2nd anniversary. Selamat dan semakin sukses buat IDFB :)



Seperti yang udah ditulis diatas, singkong dan yoghurt jarang sekali tampil seloyang karena memang beda tempat asal, beda penggemar, beda bahan, beda tekstur, beda rasa, dan beda-beda lainnya. Singkong, sumber karbohidrat yang banyak tumbuh di Amerika Selatan, Asia dan Afrika. Tumbuhan satu ini bisa tumbuh di tanah yang agak tandus, maka di daerah Gunung Kidul, Jogjakarta yang hampir selalu kemarau sepanjang tahunpun tumbuhan ini jadi hasil pertanian utama. Masyarakat di Gunung Kidul lalu mengolahnya menjadi makanan yang cukup terkenal, yaitu thiwul dan gaplek. Di negara lain singkong juga sering diolah jadi penganan tradisional, misalnya cassava bibingka [Filipina], bolo de aipim [Brazil], Banh Khoai Mi [sumber: dari sini] dan bahn tam/ singkong ulat sutera [sumber dari sana] dari Vietnam, dan kuih bingka [Malaysia, sumber: dari situ]. 


Sementara itu, yoghurt yang bercitarasa asam awalnya dikonsumsi oleh masyarakat yang akrab dengan produk olahan susu seperti di Timur Tengah, sejak 4000 tahun lalu. Di salah satu buku sejarah Turki, ditemukan fakta bahwa yoghurt awalnya tidak sengaja ditemukan oleh kaum nomaden Turki yang menyimpan susu di kantung yang terbuat dari lambung domba, susu berangsur-angsur berubah jadi gumpalan padat dan berrasa asam. Yoghurt dikenal dengan berbagai sebutan, antara lain Jugurt (Turki), Zabady (Mesir, Sudan), Dahee (India), Cieddu (Italia), dan Filmjolk (Skandinavia) [sumber: kompasiana]. Yoghurt menjadi sangat terkenal karena dipercaya sangat bagus untuk kesehatan, mengandung probiotik yang dihasilkan dari aktivitas bakteri asam laktat. Karena itulah, sekarang ini banyak produsen mencoba menawarkan berbagai macam produk yoghurt mulai dari yoghurt berbagai macam rasa yang dijual dalam kemasan botol, yoghurt kental, cake yoghurt, dan yang paling menggoda adalah frozen yoghurt yang disajikan bersama potongan buah segar atau waffle. Salah satu outlet yang menyediakan frozen yoghurt dengan varian paling lengkap adalah HEAVENLY BLUSH.

Oke, langsung saja ke kisah panjang [?] kenapa akhirnya memilih makanan yang satu ini untuk tantangan IDFB #12 singkong & yoghurt. Saya awalnya mau bikin makanan yang Indonesia banget sekaligus menonjolkan kelebihan singkong tapi tetep bisa serasi berpadu sama yoghurt, dan pastinya tanpa zat additif semacam baking powder atau pewarna sintetis. Sempat terpikirkan buat getuk yoghurt, lapis singkong dengan frozen yoghurt, cake pop isi singkong dengan saus yoghurt, zupa soup singkong, dan sebagainya. Tapi akhirnya pilih bikin cake ini karena pake bahan utama singkong [tanpa tambahan tepung terigu] dan pake 2 bahan pemantap yaitu parutan kelapa dan pisang. Yap, singkong-kelapa-pisang adalah paduan yang Indonesia banget dan biasa kita temukan di banyak jajanan di sekitar kita. Lalu, resep ini juga gluten free karena nggak pake tambahan tepung terigu. Kalo untuk pemilihan kenapa diolah jadi cake adalah karena “kayaknya” cake yang paling cocok dimasukin yoghurt ya. masih menebak-nebak juga :) 





Setelah matang, [sambil motret] saya sajikan cake dengan yoghurt yang dibekukan dan rasanya cukup nyambung, sangat terbantu dengan adanya potongan pisang yang bercitarasa manis agak asam jadi bisa jadi “jembatan” antara yoghurt dan singkong [saya pakai pisang kepok, bisa juga pakai pisang raja]. Kelapa parut ternyata juga memberikan sensasi krenyes-krenyes yang sangat akrab di lidah saya, mirip seperti saat saya makan misro/cemplon atau lapis singkong balut kelapa parut. Dan tekstur cakenya? Empuk, nggak akan nyangka kalau cake ini dibuat dari singkong segar tanpa tambahan tepung terigu. Ahahaha...semoga kalimat terakhir ini nggak berlebihan ya



Untuk resep, saya pake gabungan 2 resep dari blogger di detikfood dan resep dari majalah Sedap dengan modifikasi sana-sini. Untuk loyangnya, saya pakai loyang bongkar pasang diameter 12cm + 3 papercup ukuran sedang.




Resep Cake SingYoSang [Singkong Yoghurt piSang]


Bahan:

250gr singkong parut, peras dengan kain sampai cukup kering

2 btr telur

50gr yoghurt plain [yoghurt yang kental]

50gr gula pasir

30 gr kelapa muda, parut

50gr mentega, lelehkan

3 buah pisang ukuran sedang, iris jadi kepingan setebal 1cm

3sdm meises

Sejimpit garam


Cara membuat:

1.  Campur singkong, kelapa parut, dan garam. Aduk rata, ambil 1/3 bagian lalu campur dengan yoghurt cream [adonan A]. sisanya dibiarkan tanpa campuran yoghurt [adonan B]

2.  Oles loyang dengan mentega/minyak, alasi dengan kertas roti, lalu susun pisang yang sudah dipotong-potong di dasar loyang, sisihkan. Panaskan oven dengan suhu 180dc

3.  Kocok telur dengan mixer kecepatan tinggi, masukkan gula sedikit-sedikit. Kocok terus sampai mengembang dan pucat

4.  Ambil 1/3 bagian telur kocok lalu campurkan dengan adonan A, aduk pelan dengan teknik aduk balik dengan spatula besar [agar kocokan telur nggak kempes, kalau sampai adonan turun, cakenya bisa bantat :P], tambahkan 1/3 bagian mentega leleh, aduk rata. Masukkan meises, aduk sebentar asal rata

5.  Masukkan sisa kocokan telur ke adonan B, aduk pelan sampai rata lalu masukkan sisa mentega leleh, aduk sampai rata

6.  Tuang adonan A ke loyang, lalu tambahkan adonan B

7.  Oven dengan suhu 180dc sampai bagian atas cake kecoklatan, cek dengan tes tusuk, angkat kalau sudah matang [tidak ada bagian yang menempel di tusukan]

8.  Cake bisa disajikan dengan yoghurt cream yang dibekukan. Selamat makan :)

*untuk yang dicetak di papercup, lapisan paling bawah adonan A, adonan B, paling atas dikasih potongan pisang 
*Adonan A [yang pake campuran yoghurt] akan lebih basah dan nggak terlalu ngembang, sebaiknya selalu taruh di bagian dasar loyang

Happy baking :)

Devi - BunKim

Saturday, 21 September 2013

Roti Kentang



Roti, selalu punya ‘kasta’ khusus dalam catatan perdapuran saya. Sejak awal jatuh cinta ehm... pada prosesi masak-lalu-motret, membuat roti selalu menumbuhkan sesuatu di hati, kalau bisa digambarkan mungkin seperti percikan kembang api menjelang lebaran. Misterius sekaligus menggembirakan. Bagaimana nggak? Adonan tepung dan ragi diuleni, ditarik, dibanting sampai elastis, lalu mengembang, dan dipanggang beberapa menit, lalu muncullah roti-roti gendut yang wangi dan panas dari oven. Kabar baiknya lagi, saya belum pernah gagal bikin roti, walaupun jarang bisa nguleni sampai kalis dan dijembreng tanpa robek. Padahal kalau bikin kakak-adiknya si roti [yaitu cake, cookies, atau jajan pasar]....saya banyak gagalnya hehe





Selain itu, waktu nguleni roti untuk banyak orang –termasuk saya- bisa jadi waktu terapi gratisan, penyaluran emosi negatif seperti semacam “stress room” di kantor-kantor wkwkwk. Adonan yang empuk dan liat itu, mau dibanting, dipukul, dicakar, dipenyet, dilempar sekalipun nggak akan berontak apalagi marah. Malah dia akan semakin elastis, semakin mengembang. Sampe saya pikir, jadi kayak falsafah hidup ya. Harusnya, kita bisa jadi seperti adonan roti. Semakin keras dan kejam hidup “membanting” kita, makin liat dan berkualitaslah kita. 



Kali ini, saya buat roti kentang. Resepnya dari buku Primarasa aneka roti dari seri masak Femina. Sebelumnya saya udah sering bikin roti labu dan roti ubi, saya suka dengan efek warna alami 2 bahan itu jadi setelah mateng rotinya berwarna ungu, kuning, jingga, cantik. Tapi setelah kenal roti kentang sebulan lalu, well...harus mengakui kalau kentang memang istimewa, teksturnya jadi empuk dan mengembang bagus. Jadi bulan ini saya cuma 2 kali baking, dan dua-duanya adalah roti kentang :)





Seperti biasa, saya ngotak-atik resepnya, masukin kentang lebih banyak dan mengurangi gula. Resep asli berjudul roti sisir kentang, dibuat tanpa filling dan dicetak dalam loyang loaf. Saya modif rotinya pake filling coklat dan keju + dicetak dalam paper cup biar gampang kalo mau dibawa untuk bekal jalan-jalan.




Roti kentang

Sumber: Primarasa aneka roti dari seri masak Femina


Bahan

200gr tepung terigu protein tinggi [saya pake cakra kembar]

100gr kentang kukus, kupas, haluskan selagi panas [saya pakai 200gr]

1sdt ragi instan

50gr gula pasir [saya pakai 25gr, hasilnya nyaris plain]

1 kuning telur, kocok lepas

75ml susu cair [saya pakai UHT plain]

1 sdt garam

35gr mentega

Mentega untuk olesan loyang


Olesan dan taburan

1 kuning telur, kocok lepas, campur dengan 25ml susu cair [saya pakai susu UHT saja]

Keju parut, meises, terserah selera

Saya tambahi filling keju dan coklat


Cara membuat

1.    Taruh tepung terigu, kentang halus, ragi instan, dan gula dalam mangkuk, aduk rata. Masukkan kuning telur dan susu cair, aduk rata. Tambahkan garam dan mentega, uleni hingga adonan kalis

2.  Bulatkan adonan, taruh dalam mangkuk. Tutup dengan plastik/ kain bersih. Diamkan hingga adonan mengembang 2 kali semula [sekitar 30 menit]. Olesi bagian dalam paper cup dengan mentega. Panaskan oven pada suhu 200 dc

3.     Kempiskan adonan dengan cara ditinju untuk membuang sisa gas. Potong [saya sekitar @50gr], isi dengan bahan filling, tutup dan bulatkan. Letakkan didalam paper cup yang telah ditata dalam loyang datar

4.   Biarkan adonan mengembang sekitar 30 menit, olesi permukaan roti dengan bahan olesan, taburi dengan meises/ keju parut

5. Masukkan loyang ke dalam oven, panggang hingga matang 10-15 menit. Keluarkan loyang dari oven. Olesi lagi permukaan roti dengan bahan olesan selagi masih panas


Happy baking :)

Devi - BunKim

Wednesday, 31 July 2013

IDFB #11: Bakmi Thoprak [Solo]




Alhamdulillah, akhirnya bisa juga setoran di chalenge IDFB #11 bertema mie, di hari terakhir 31 juli :D 


Sebenernya sejak 2 minggu lalu udah beli mie basah tapi masih maju mundur pilih resep yang mana, ditambah selama puasa nafsu masak-memasak turun drastis jadilah 2 minggu berlalu tanpa satupun eksekusi resep. Hari ini tiba-tiba dapet ilham untuk googling dengan key word “bakmi solo” dan ketemulah saya dengan resep bakmi thoprak khas solo. Kalo denger namanya, pasti langsung inget ketoprak khas Jakarta kan? Tapi secara penampakan dan isi, bakmi thoprak ini lebih mirip soto mie Bogor Cuma isinya lebih kumplit pake bihun dan mie kuning, tahu dan tempe goreng, daging sapi, bawang goreng, cakwe, sosis solo, kacang goreng, krupuk gendar, dan tentu saja taburan seledri. Unik ya, biasanya mie dipadu dengan seafood atau daging, tapi di Solo ini mie dipadu dengan tahu dan tempe goreng :)


Oya, bakmi adalah kata yang lumrah digunakan untuk menyebut mie di daerah Jawa. Dan sebelum menjadi sangat terkenal, bakmi atau mie ini menempuh perjalanan sejarah yang cukup panjang sejak dikenalkan bangsa Cina saat mereka datang di pulau Jawa pada tahun 1870. Saat itu bahan dasar yang banyak digunakan adalah digunakan itu mian (mie) berbahan dasar tepung terigu dan tepung beras, mifen (bihun), mian xian (misoa), lumian (lomi), guotiao (kwetiau), juga dipake ravioli alias bianshi (pangsit) [sumber sejarah.kompasiana].  Pada masa prakemerdekaan, mie menjadi makanan langka karena bahan baku tepung gandum juga sulit diperoleh, harus diimpor dari luar. Baru sekitar tahun 1960 mie menjadi konsumsi massal dengan mulai diproduksinya ‘mie instan’ yang menghabiskan 60% porsi kuota gandum impor [sumber: leo4kusuma. Mie yang dibawa oleh bangsa Cina sudah mengalami penyesuaian agar cocok dengan citarasa lidah orang Indonesia, lebih khusus lagi lidah orang di daerah-daerah di Indonesia. Selain itu, bumbu dan penyajian mie juga dipengaruhi oleh bumbu Bangsa Arab, India, dan para pendatang lainnya. Penyebaran mie hampir berbarengan dengan munculnya masakan soto [caudo] terutama di pesisir Jawa setelah habisnya perang Diponegoro 1825-1830 [sumber sejarah.kompasiana]. Mungkin karena itu juga racikan kuah mie dan kuah soto saling identik satu sama lain, hanya pelengkapnya saja yang sedikit berbeda. Tak heran saat ini banyak daerah memiliki racikan mie dengan bumbu khas daerah masing-masing. Misalnya mie Aceh yang pedas dengan paduan seafood, mie titi di Makassar, Mie lendir di Batam, Mie gomak Medan, Mie goreng Jawa yang manis, dan bahkan mie ayam yang menjamur di seluruh kota pun memiliki ke khasan sendiri-sendiri sesuai lidah masyarakat setempat.


Salah satu mie khas daerah adalah si bakmi thoprak Solo ini. Di Solo, salah satu penyedia bakmi thoprak yang paling legendaris adalah warung Yu Nani di Kartopuran yang konon katanya mulai buka pada awal 1950-an [sumber detikfood]. Saya yang seumur-umur baru 2 kali ke Solo tentu saja belum pernah nyicip bakmi legendaris itu. Tapi minggu ini, saya akan coba bikin sendiri dengan bahan baku disesuaikan dengan stok kulkas. Sluuuurp...Solo, i’m coming lah. Oya karena males nyari mie kuning basah, akhirnya nekat bikin mie kuning sendiri. FYI, saya baru pertama kali ini bikin mie dan nggak punya pasta maker jadi bikinnya manual diiris pake piso dengan bantuan 'penggaris' dari spatula besi. Untuk warna kuningnya saya pake kunyit. Jadinya...secara bentuk sih nggak jelek-jelek amat hahaha, saya coba patahkan juga lumayan kenyal tapi soal rasa... baru bisa cek nanti malam setelah buka puasa :D


  Resep Mie kuning:
Bahan
80 gr tepung terigu
35 ml air
Garam sejimpit
Kunyit sekitar 3cm
[saya tambah 2 sdm telur kocok]
Air + 1sdm minyak untuk merebus

Cara membuat
1.       Campur semua adonan, uleni sampai kalis
2.       Giling tipis 0,1cm lalu iris tipis dengan pisau
3.       Rebus 3 menit dengan air mendidih, angkat dan tiriskan. siap digunakan

                  Resep modifikasi dari Ibu Nurhafni SyamsulHamris di grup FB Dapur Aisyah 



 
Bakmi Thoprak
Resep: sajiansedap

Bahan Pelengkap:
250 gram mi kuning, direbus
100 gram taoge, direbus
100 gram kol, diiris kasar, direbus
50 gram bihun, diseduh
200 gram tempe, dipotong-potong, dilumuri 1/2 sendok teh garam, digoreng matang
1 buah tahu, dilumuri 1/2 sendok teh garam, digoreng matang
2 sendok makan daun seledri, diiris halus untuk taburan
3 sendok makan kecap manis
100 gram kacang tanah kulit, digoreng

Bahan Kulit Sosis Solo:
75 gram tepung terigu
1/4 sendok teh garam
150 ml air
1 butir telur, dikocok lepas

Bahan Isi:
150 gram ayam giling
2 siung bawang putih, diiris tipis
5 butir bawang merah, diiris tipis
1/2 sendok teh merica bubuk
1/2 sendok teh pala bubuk
1/2 sendok teh garam
3 sendok teh kecap manis
1/2 sendok teh ketumbar bubuk
2 sendok makan minyak untuk menumis
2 butir telur, dikocok lepas untuk pencelup

Bahan:
300 gram daging sengkel
2.000 ml air
6 lembar daun jeruk, dibuang tulang daunnya
3 lembar daun salam
5 sendok teh garam
1/4 sendok teh merica bubuk
2 sendok teh gula pasir
3 sendok makan minyak untuk menumis

Bumbu Halus:
8 butir bawang merah
3 siung bawang putih
1 sendok teh ketumbar

Cara membuat:
1. Bumbu, rebus sengkel di dalam air sampai sengkel empuk. Saring kaldunya 1250 ml. Tambahkan 750  ml air.  Potong-potong sengkel.
2.  Panaskan minyak. Tumis bumbu halus, daun jeruk, dan daun salam sampai harum. Tuang ke rebusan kaldu.
3. Masukkan garam, merica bubuk, dan gula pasir. Masak sampai matang. Sisihkan.
4. Isi sosis solo, panaskan minyak. Tumis bawang putih dan bawang merah sampai harum. Tambahkan ayam giling. Aduk sampai berubah warna.
5. Masukkan merica bubuk, pala bubuk, garam, kecap manis, dan ketumbar bubuk. Aduk sampai meresap.
6.  Kulit, aduk rata tepung terigu, garam, dan air. Masukkan telur. Aduk rata. Dadar.
7.  Ambil selembar kulit sosis. Beri isi. Lipat. Gulung. Kukus.
8.  Celup ke dalam telur. Goreng dalam minyak yang sudah dipanaskan sampai matang.
9.  Sajikan bakmi thoprak bersama bahan pelengkap, irisan sosis solo, dan siraman kuah.
 Untuk 8 porsi [saya bikin 1/3 resep]

                  Happy cooking :) 
                  Devi - BunKim