Wednesday, 29 May 2013

Passau nggela [lapis labu]





Nemu resep lapis ini di majalah sedap edisi februari 2013, saya googling tentang lapis satu ini tapi nggak nemu artikel atau resep sejenis. Menurut majalah sedap, lapis ini makanan khas Sulawesi Tenggara. Warnanya putih-kuning terang, cantik banget. Teksturnya nggak terlalu kenyal, tapi ringan dan lembut. Kalo mau bikin, pastikan dulu lapisnya udah dingin ya [lebih bagus kalau pisaunya dioles sedikit minyak] soalnya kalo panas-panas udah diiris, jadinya nggak karu-karuan kayak punya saya ini hehe. Karena bikinnya udah kesorean, suami dan anak udah kelaparan jadilah panas-panas udah langsung diiris dan di makan. Untungnya masih sisa beberapa potong untuk difoto. Motretnya magrib-magrib, udah kemaleman jadi gelap >,<

Passau Nggela [lapis labu]
Makanan khas Sulawesi Tenggara

Bahan I:
250 gr labu kuning, kukus, haluskan selagi panas
2 butir telur
75 gr gula pasir [saya pake 30gr, manisnya jadi tipiiiis banget]
100 ml santan dari ½ butir kelapa
100 gr tepung beras
½ sdt vanili bubuk [saya skip]
½ sdt garam

Bahan II [aduk rata]:
3 sdm tepung terigu [saya pake 5sdm]
2 sdm gula pasir halus
150 ml santan kental dari ½ butir kelapa [saya pake 200ml]

Cara membuat:
1.      Kocok telur dan gula pasir sampai setengah mengembang
2.      Masukkan labu, santan, tepung beras, vanilli, dan garam. Kocok hingga kental
3.      Tuang setengah adonan bahan I ke dalam loyang kotak ukuran 18x18x7cm
4.    Kukus diatas api sedang selama 10 menit sampai mengeras. Tuang ½ bahan II diatasnya. Kukus diatas api sedang selama 5 menit hingga matang
5.     Tuang sisa adonan bahan I. Kukus lagi 10 menit. Taung sisa adonan bahan II. Kukus lagi 20 menit hingga matang

Sumber resep: majalah Sedap edisi Februari 2013

Happy cooking :)
Devi - BunKim

Tuesday, 21 May 2013

Bienenstich




 Jujur saja, saya nyoba resep ini karena namanya lucu  xixixi.. bienenstich itu bahasa Jerman untuk sengat lebah. Jadi konon katanya, waktu roti ini dibuat toppingnya yang wangi dan manis madu mengundang lebah berdatangan sampai-sampai si pembuat roti tersengat lebah. Wow... prolog resep yang sangat menarik buat saya :D
Kebetulan juga tadi pagi ngobrolin tentang Jerman sama suami, jadi siangnya langsung kluthekan di dapur bikin yeast cake khas Jerman ini. Ya ndak papa ya yah, belum bisa ke Jerman..sementara nyicip roti jerman dulu. Bienenstich termasuk yeast cake karena merupakan perpaduan antara cake dan roti, pake ragi tapi dipanggang dalam cetakan cake. Katanya kue ini populer sekali di Jerman, kalo disini sih saya belum pernah denger...kalah jauh sama pizza Italia atau donut Amerika. 


 Bienenstich biasa disajikan dengan filling vla atau cream dengan topping madu dan almond yang yuuuuuuuummmmm. Cake atau roti dengan topping almond atau olesan madu mungkin udah biasa, tapi kalo almond dan madunya dicampur trus ditambah butter.. waah bikin ngiler banget deh. Dan itulah topping si bienenstich ini.


 Cara bikinnya nggak beda jauh sama roti lain, yang beda Cuma ada langkah memasak butter dan susu sebelum dicampur dengan bahan kering dan telur. Saya bikin setengah resep, jadinya 1 roti ukuran sekitar 20x20cm tebal 4cm-an. Kalo tekstur, roti ini mirip sama donat tapi sedikit lebih padat. Yang saya buat ini less sugar jadi nggak terlalu manis [manisnya udah cukup dari vla filling dan topping], kalo takaran gula sesuai resepnya sih jadinya bakal seperti roti manis ya. Oya, punya saya ini kayaknya overcook ya, toppingnya gosong-gosong eksotis seperti biasa :D

Ada yang penasaran mau coba?
Ini resepnya dari buku resep aneka roti mancanegara terbitan sedap



Resep
Bienenstich [Bee sting cake]

Bahan dasar roti:
200 ml susu cair
50 gr margarin --> saya pake butter
350 gr tepung terigu protein sedang --> saya pake protein tinggi
1 bungkus ragi instan [11gr]
50 gr gula pasir --> saya pake 2 sdm
½ sdt garam
1 butir telur

Bahan topping
100 gr mentega tawar
50 gr gula pasir  --> saya pake 1 sdm
½ sdm madu --> saya pake 2sdm
2 sdm krim kental --> saya ganti sedikit susu cair UHT
100 gr almond slice

Bahan filling [ di resep pake vla instan]
Vla:
1 kuning telur
15gr tepung maizena
100 ml susu cair
2 sdm gula halus


Cara membuat:
1.     Roti: panaskan susu cair dan margarin. Aduk sampai larut. Biarkan hangat
2.  Campur tepung terigu, ragi instan, gula pasir, dan garam. Aduk rata. Tambahkan telur dan campuran susu sedikit-sedikit sambil diuleni sampai elastis. Diamkan 30 menit sampai mengembang.
3.  Giling adonan setebal 1 cm. Letakkan di loyang 28x28x3cm yang dioles margarin dan dialas kertas roti. Diamkan 40 menit sampai mengembang.
4.   Topping: panaskan mentega tawar. Tambahkan gula pasir dan madu. Aduk sampai larut. Tuang krim kental. Aduk rata. Tambahkan almond slice. Aduk rata. Angkat
5.      Oles bagian atas toti dengan topping. Oven 20 menit dengan suhu 180 dc sampai matang
6.      Filling vla: panaskan susu cair. Kocok rata maizena, gula halus, dan kuning telur dengan whisker. Tambahkan sedikit susu panas, aduk rata. Masukkan adonan ke susu yang masih direbus. Aduk terus sampai mengental. Angkat dan dinginkan
7.       Penyajian: belah roti jadi 2, isi dengan bahan filling, tangkupkan. Sajikan 

Untuk resep vla, saya nyontek vla untuk kue sus dari sini bikin 1/3 resep dengan sedikit modifikasi.

Happy cooking :)
Devi - BunKim

Sambal raja [Kutai]





Kapan hari liat ada yang posting foto sambal di grup masak FB [lupa grup yang mana], fotonya close up mak nyes di lidah. Langsung googling dan nemu sambal raja, sambal khas kutai yang konon katanya sering dihidangkan untuk para raja di masa lalu. Bahan-bahannya nggak terlalu beda sama sambal di Indonesia pada umumnya, bawang merah-cabe-garam. Yang bikin spesial adalah penambahan jeruk kasturi/lemon cui/ jeruk cina/ kalamanci, katanya harumnya khas banget. Waaaah..apapula itu, baru denger pertama kali. Katanya jeruk ini populer di daerah sekitar Sulawesi jadi saya yang seumur-umur tinggal di pulau Jawa nggak pernah tau deh
Awalnya saya kira itu sejenis jeruk peras yang biasa dipake abang-abang tukang somay atau soto mie bogor [jeruk limau ya namanya? Yang kayak jeruk purut tapi kecil dan berair banyak. nampang di 2 foto di halaman ini], setelah googling gambarnya ternyata bukan. Malah ingatan saya mampir ke masa kecil dulu, jeruk-jeruk kecil yang biasa disebut sebagai jeruk kingkit. Setelah googling [lagi] ternyata bukan juga..mungkin ingatan saya yang salah, buah jeruk kingkit bukan seperti lemon cui ini.
Karena udah kebelet, akhirnya  bikin aja sambal raja tanpa lemon cui. Gantinya pake jeruk limau. Untuk makan siang, porsi saya nambah 2x lipat dengan racikan sambal + tempe goreng + sayuran :D
Pucuk dicinta ulam pun tiba, minggu berikutnya waktu ke pasar dan belanja tempe di bakul langganan kok liat dia punya seplastik jeruk kecil-kecil, mirip jeruk peras tapi jauh lebih kecil lagi. Langsung nanya dan katanya itu adalah jeruk kutai sambil cerita bla bla bla jeruk ini mahal beda sama jeruk sambel biasa Neng. Okelah, langsung berbinar-binar dan beli sekitar 10 biji seharga 2ribu. Waaah...kayaknya bener-bener lemon cui yang saya dapet ini. Semoga :) Langsung bikin sambal raja lagi dengan tambahan lemon cui.



Oya, untuk pelengkap sajian sambal raja pake sayuran, tempe goreng, dan telur asin/telur rebus cincang. Yang sangat unik menurut saya adalah sayurnya [terong dan kacang panjang] digoreng bukan direbus atau dikukus. Selama ini taunya makan sambel ya pake sayuran rebus, seperti pecel, urap, lotek, daun singkong rebus + sambal terasi, trancam. Belum pernah makan versi goreng, kecuali pas nyoba sambal raja ini. Jatuh cinta dengan rasa dan cara penyajiannya. Nyammmm huhah huhah huhah


Resep
Sambal Raja [Kutai, Kalimantan]

Bahan:
3 sdm minyak sayur
5 helai kacang panjang, potong 2 cm
1 buah terong ungu, potong dadu 1 cm
10 butir bawang merah, belah 4
2 butir telur ayam, rebus, kupas, cincang

Bumbu:
10 buah cabai merah besar
10 buah cabai tiung (rawit)
1 buah jeruk cina (limau kasturi, lemon cui)
Blacan (trasi) secukupnya
Garam secukupnya
Gula pasir secukupnya

Cara membuat:
1.       Goreng kacang panjang, terung, dan bawang merah sebentar dengan minyak panas. 
2.   Cabai dihaluskan dengan terasi, garam, dan gula. Bubuhi sambal dengan perasan jeruk cina. Tumis sambal dengan minyak sayur.
3.       Rajang halus kulit jeruk cina, campurkan ke dalam sambal.
4.     Sajikan sambal di tengah cobek, dikelilingi oleh telur rebus, bawang, terong, dan kacang panjang.
5.       Sajikan dengan nasi hangat dan lauk-pauk lainnya.

Resep diperoleh dari:
Ibu Ainun (Acil Inun) warung Selera, Samarinda
Sumber resep: detik food

salam huhah :)
Devi - BunKim



Sunday, 5 May 2013

IDFB #10 Kue Berlapis: Sengkulun






Satu-satunya sengkulun yang pernah saya makan adalah sengkulun buatan nenek saya, dengan siapa saya menghabiskan masa kecil di Muntilan, Magelang. Setiap pulang main dengan perut kelaparan, buru-buru lari masuk rumah, yang saya temukan adalah beragam jajanan buatan Mbah Uti saya ini. Dan sengkulun adalah salah satu favorit saya, selain krasikan [jenang, sejenis dodol, terbuat dari tepung beras kasar, tepung ketan, dan gula jawa yang khas dengan sensasi klethis-klethis ketika dikunyah], wajik [terbuat dari ketan utuh, dikukus lalu dimasak bersama santan dan gula jawa sampai tiris], lemper [masih berbahan ketan utuh, dikukus lalu diisi daging ayam tumbuk atau kelapa parut, lalu dibungkus daun pisang], sagon basah [tepung ketan kasar dicampur parutan kelapa lalu dipanggang dan diberi topping gula pasir], jenang sumsum, atau Cuma pisang goreng. 

Sengkulun itu khas sekali dengan warna merah putihnya [belakangan baru tau ternyata ada juga yang bikin warna hijau – putih], tekstur lembek - lengket, dan rasa manis - gurih. Kenapa warnanya merah putih? Ada yang bilang itu perlambang bendera merah-putih yang menggambarkan semangat kemerdekaan di jaman perjuangan. Tapi mungkin juga sengkulun udah ada jauh sebelum masa perang kemerdekaan kan? Hehe. Tapi memang banyak sekali makanan jaman kecil saya yang didominasi warna merah-putih sih.

Waktu googling resep sengkulun, saya nemu ada 2 versi sengkulun. Sengkulun seperti yang saya kenal waktu kecil, diklaim sebagai jajanan khas Malang, Bangka [namanya sangkolun], Palembang [jando berias], dan Jogja sekitarnya tentu saja. Bentuk matangnya mirip satu sama lain, cuma bahannya ada yang pakai tepung sagu, tepung ketan, dan variasinya. Versi kedua adalah sengkulun Betawi, ini bentuknya lain sama sekali walau bahannya sama-sama tepung ketan. Sengkulun Betawi sedikit banyak terpengaruh kuliner cina, sehingga penampakannya mungkin akan mengingatkan kita pada kue keranjang, warna coklat dengan tekstur kenyal. Jaman kecil, saya tau sengkulun Betawi ini dengan nama ongol-ongol, mirip sekali warnanya coklat gula jawa dan disajikan dengan balutan kelapa parut. Bedanya, sengkulun Betawi dibuat dari tepung ketan sedangkan ongol-ongol biasanya dari tepung sagu. Nama sengkulun sendiri, ada yang bilang berasal dari bahasa Tionghoa sang-ko-lun [sumber disini]. Untuk resep dan penampakan sengkulun Betawi bisa dicek disini

 Kalo diitung-itung, mungkin udah 20 tahun saya nggak lihat [dan makan] sengkulun buatan Mbah Uti. Selain karena udah terpisah tempat juga karena Mbah Uti sudah semakin sepuh, nggak bisa sekuat dulu ngaduk adonan kue seharian. Untungnya ada IDFB #10 yang bertema “kue berlapis” jadi saya semangat mau coba bikin sendiri :D Lagipula dibanding kue lapis lain, kayaknya sengkulun ini yang relatif murah dan gampang dibikin ya. Masih agak gamang kalo mau bikin lapis legit atau lapis pepe gitu.

Oya, untuk warna merahnya saya pake pewarna alami. Awalnya mau pake bit, ternyata ga nemu di pasar. Pake buah naga merah, juga nggak ada di tukang buah langganan. Akhirnya nemu alternatif warna merah dari angkak atau beras fermentasi merah. Biasanya dipake untuk masakan china atau obat demam berdarah. Rasanya pahit jadi harus direndam-bilas beberapa kali untuk menghilangkan rasa pahitnya.  Pakenya cukup sedikit saja, udah merah banget warnanya. Cara bikinnya? 1 sdm angkak dicuci dan direndam sebentar pake air anget, diulangi 2 kali, buang airnya. Lalu rendam lagi dengan air anget, lalu ditumbuk dan dicampur dengan air rendaman ketiga tadi. Setelah itu bisa disaring dan dipake untuk mewarnai makanan. 



Berita buruknya, karena resep nggak mencantumkan takaran air, saya pake feeling alias sotoy aja...ternyata kelembekan hihihi. Padahal saya udah pelan-pelan ngaduknya dan berhenti nuang air begitu adonan tepung udah kalis. Seinget saya, tekstur sengkulun yang dibuat Mbak Uti dulu agak keras, nggak selembek buatan saya. Belakangan baru nemu resep lain yag ada takaran airnya..ternyata bener cuma pake beberapa sendok makan aja, berarti nguleni adonan bukan sampe kalis tapi asal berbutir saja yaa hehe. Saya bikin setengah resep jadinya 8 potong sengkulun.


Jadi berikut ini resep yang pakai untuk bikin sengkulun Jogja :)

SENGKULUN
Resep:1010 resep asli masakan Indonesia
Modified by Avie

Bahan:
500 gr. tepung ketan
1/2 btr. Kelapa muda parut memanjang
200 gr. Gula Pasir --> saya pake 50gr untuk setengah resep, udah manis di lidah saya
1 sdt. Garam Halus
1 sdm. Air kapur sirih (ambil jernihnya saja)
air secukupnya
minyak sayur untuk olesan
pewarna merah secukupnya --> saya pake angkak sebagai pewarna merah alami
daun pisang untuk alas

Cara Membuat:
1. Campur tepung ketan, kelapa muda parut, garam, gula dan air kapur sirih. Aduk rata
2. Tuangi air secukupnya sampai adonan agak liat dan berbutir (tidak cair/lembek)
3. Ambil 1/3 adonan beri warna merah secukupnya, aduk rata, sisihkan
4. Alasi wadah/ loyang dengan daun pisang, olesi dengan minyak sayur
5. Tuang adonan putih dalam wadah/ loyang tersebut.
6. Tuang adonan warna merah diatas adonan putih.
7. Kukus hingga matang, kurang lebih 30 menit.
8. Setelah dingin, potong-potong sajikan.


Salam,
Devi - BunKim :)